Sabtu, 14 Januari 2017

Mental Block

"hari senja dimana masyarakat urban jabodetabek berkumpul disekitar Commuterline, yah... seperti biasa rutinitas roda kehidupan yg bisa kita temui disini.

saya hampir lupa mulai tahun berapa masyarakat kita berubah aneh seperti zombie, headset ditelinga, kepala tertunduk dan tangan kanan memegang smartphone. 

nuansa egoisme pun kini seakan menjadi bagian dari sisi jabodetabek, dulu.. sangat mudah untuk mencari kawan walaupun harus berdesak-desakan diatas metromini dan kopaja. sekarang headset menjadi rambu pakem "don't disturb me!" ah sudahlah nampaknya zaman pun sudah berganti.

saya mencoba berkenalan dengan beberapa remaja dewasa yang tampak murung, yah murung sangat jika orang melayu bilang.

sebut saja namanya Ratih, 25 tahun sarjana kependidikan dari salah satu universitas terkemuka di depok.

Ratih merasa depresi dikarenakan menjadi pengangguran terdidik, ketika saya tanya kenapa tidak menjadi guru saja, diapun menjawab "gak gampang lho bang, skrg itu kalo' gak ada yg bawa susah banget, blm lagi skrg ini zamannya ribet, udah coba lamar yg lain pun sama, ada yg minta Adm dulu, ada juga lowongan kerja yg nipu, "nipu gimana maksudnya de'" tanya saya, "gini bang, ratih cape' jauh2 ke gedung @,  udah kasi lamaran eh ujung2 nya minta uang buat matrai, pendaftaran, dsb.. ratih mau kerja bang, bukan ngeluarin uang.

"ooh, begitu ..  ' kalo itu mah boongan ratih,.. outsourcing illegal, jangan mau. " jawab saya

" gimana lagi bang, uang udah nipis, jujur ratih bener2 stress, gak tau lagi gimana bang"

itulah beberapa percakapan saya dengan Ratih yang sebagian saya timpali dengan senyum.

sebagian dari kita mungkin pernah mengalami hal seperti layaknya ratih, yah .. kerja adalah problematika hidup yg akan terus terjadi sampai kiamat.

semalaman saya berpikir dan menyelami percakapan saya dan ratih tadi senja.

"berapa pengangguran terdidik yg mengais-ngais lowongan kerja di negri ini, hasil riset yg saya temukan di google cukup mengerikan.. (silahkan googling sendiri ya)
bahkan beberapa diantaranya rela melepas penganggurannya dengan dibawah UMK. ckcckck.. mana pemerintah, dengan konsep polbanya (Politik Bacot) nya??..

saya teringat kembali 8 tahun silam ketika pertama kali kejakarta, yah begitulah hidup..

Jabodetabek adalah tempat yg cocok untuk menemukan mental Block, karena disinilah sejatinya kawah chandradimuko versi indonesia.

kondisi seseorang yg depresi serta kehilangan kemampuan, kepercayaan diri adalah Mental Block.

solusi mental Block adalah diri sendiri, pahami filosof ini, "semakin keras kita membanting bola kasti, semakin tinggi pantulannya"...

begitupula dengan hidup,.. semakin keras tamparan, gesekan dan apapun yg membuat kita tersungkur, maka sekuat itulah kita diasah untuk menjadi manusia yg tahan banting.

semoga kita tidak menyerah pada kerasnya hidup. ingatlah bahwa penderitan itu sifatnya sementara, dan tidak lebih dari 100 tahun ( hehe asumsi umur kita )

bagi adik-adik, rekan, sahabat yg masih memiliki block mental, pahamilah. ini hanyalah bagian psikotest kehidupan anda, lewati dengan keyakinan. suatu saat ketika anda telah melewati ini maka anda akan siap dengan segala kemungkinan yg terjadi.

jangan pernah menyerah pada kondisi-kondisi yg menyudutkan, hajar dan sikat dari dalam, persetan dengan berbagai kata2 yg melemahkan.

ini hidup anda.. silahkan nikmati sesuai keinginan anda..

tetap berjuang kawan....

*thx ratih.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar